Syarat-syarat mencari ilmu
Saat di
pesantren dulu pernah belajar kitab yang bernama “Alaa laa”, ini adalah syair
dari Imam Ali rodhiyallahu’anhu. Berikut beberapa bait dari syair tersebut,
semoga mampu menggugah dan selalu memunculkan semangat mencari ilmu pada diri
kita, khususnya ilmu agama.
اَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِسِتَّة # سَأُنْبِيْك عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
ذُكَاءٍ
وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍوَبُلْغَةٍ# وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ
Ingatlah, tidak akan kalian mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 syarat, yaitu
cerdas (berakal sehat), semangat, sabar, ada biaya, petunjuk ustadz dan waktu
yang lama.
عَنِ الْـمَرْءِ لاَ
تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ# فَكُلُّ قَرِيْنٍ
بِالْـمُقَارَنِ يَقْتَدِي
فَاِنْ
كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْهُ سُرْعَةً# فَاِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ
فَقَارِنْهُ تَهْتَدِيْ
Tidak perlu engkau bertanya tentang kepribadian seseorang, lihat saja
temannya, karena seseorang akan mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya,
bila temannya tidak baik maka jauhilah dia secepatnya, dan bila temannya baik
maka temanilah dia kamu akan mendapatkan petunjuk.
وَكُنْ
مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً # مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبحْ فِىْ
بُحُوْرِ الْفَوَائِدِ
تَعَلَّمْ
فَاِنَّ اْلعِلْمَ زَيْنٌ لأَهْلِهِ # وَفَضْلٌ وَعِنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِِدِ
Belajarlah, ilmu adalah perhisan indah bagi pemiliknya, dan keutamaan
baginya serta tanda setiap hal yang terpuji.
Belajarlah setiap hari untuk menambah ilmu yang telah kau miliki, lalu berenanglah dilauatan manfat-manfaatnya.
Belajarlah setiap hari untuk menambah ilmu yang telah kau miliki, lalu berenanglah dilauatan manfat-manfaatnya.
تَفَقَّهْ
فَاِنَّ اْلفِقْهَ اَفْضَلٌ قَائِدِ # اِلَى
الْبِّرِوَالتَّقْوَى وَاَعْدَلُ قَاصِدِ
هُوَاْلعِلْمُ
اْلهَادِىْ اِلَى سُنَنِ الْهُدَى # هُوَالْحِصْنُ
يُنْجِىْ مِنَ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ
Pelajarilah ilmu fiqih karena ilmu fiqih adalah sebaik-baik penuntun menuju
kebaikan dan ketakwaan, dan paling lurus dari sesuatu yang lurus. Ilmu
fiqih adalah lambang yang menunjukkan jalan hidayah, dan benteng yang menjaga
dari setiap sesuatu yang memberatkan.
فَاِنَّ
فَقِيْهًا وَاحِدًامُتَوَرِّعًا # اَشَدُّعَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ
اَلْفِ عَابِدِ
فَسَادٌ
كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ # وَ اَكْبَرُ منْهُ جَاهِلٌ
مُتَنَسِّكُ
هُمَا
فِتْنَةٌ فِي الْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ # لِمَنْ بِهِِمَا فِيْ دِيْنِهِ
يَتَمَسَّكُ
Satu ahli fiqih yang wira’i (menjauhkan diri dari larangan Allah taala dan
menjalankan perintahNya) lebih berat bagi syaitan daripada seribu ahli ibadah
(yang tidak berilmu). Kerusakan yang besar jika orang ‘alim (berilmu)
melakukan kedurhakaan, tetapi lebih besar kerusakannya jika orang jahil (bodoh)
melakukan ketaatan (Ibadah). Keduanya adalah penyebab fitnah di kalangan
umat, dan tidak layak dijadikan panutan.
يَمُوْتُ
الفَتَى مِنْ عَثْرَةٍ مِن لِّسَانِهِ # وَلَيسَ يَمُوتُ الْمَرْءِ مِنْ عَثْرَةِ
الرِّجْلِ
فَعَثْرَتُهُ
مِنْ فَيْهِ تَرْمِىْ بِرَأْسِهِِ # وَعَثْرَتُهُ بِالرِّجْلِ تَبْرَى عَلَى
الْمَهْلِِ
Pemuda bisa mati sebab tergelincir lisannya, tapi tidak akan mati karena
tergelincir kakinya. tergelincirnya mulut bisa melenyapkan kepalanya, sementara
tergelincirnya kaki akan sembuh kemudian.
أَخُو
الْعِلْمِ حَيُّ خَالِدٌ بَعْدَ مَوْتِهِ * وَأَوْصَالُهُ تَحْتَ التُّرَابِ
رَمِيْمُ
وَذُو
الْجَهْلِ مَيْتٌ وَهُوَ يَمْشِى عَلَى الثَّرَى # يُظَنُّ مِنَ
اْلاَحْيَاءِ وَهُوَ عَدِيْمُ
Orang yang berilmu akan tetap hidup setelah matinya walaupun
tulang-tulangnya telah hancur di bawah bumi. sementara orang yang bodoh,
sejatinya telah mati walaupun masih berjalan di atas bumi, banyak yang
menyangka dia hidup, padahal dia telah tiada.
فَذَاكَ
مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ # وَهَذَا مُرَبِّ الْجِسْمَ
وَالْجِسْمُ كَالصَّدَفْ
Ustadzku adalah pembimbing jiwaku dan jiwa adalah bagaikan mutiara,
sedangkan orang tuaku adalah pembimbing badanku dan badan bagaikan kerangnya.
رَأَيْت
اَحَقَّ الْحَقِّ حَقَّ الْمُعَلِّمِ # وَأَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى
كُلِّ مُسْلِمِ
Saya melihat lebih haknya sesuatu yang hak adalah hak dari guru, dan bahwa
hak seorang guru adalah wajib di laksanakan atas setiap orang islam.
فَمَا
النَّاسُ اِلاَّ وَاحِدٌ مِنْ ثَلاَثَةٍ # شَرِيْفٌ وَمَشْرُوْفٌ وَمِثْلٌ
مُقَاوِمُ
فَاَمَّا
الَّذِىْ فَوْقِىْ فَأَعْرِفُ قَدْرَهُ # وَاَتْبَعُ فِيْهِ الْحَقَّ وَالْحَقُّ
لاَزِمُ
فَاَمَّا
الَّذِىْ مِثْلِى فَاِنْ زَلَّ اَوْ هَفَا # تَفَضَّلْتُ اِنَّ الْفَضْلَ
بِالْفَخْرِ حَاكِمُ
فَاَمَّا
الَّذِىْ دُوْنِىْ فَاَحْلَمُ دَائِبًا # أَصُوْنُ بِهِ عِرْضِى وَاِنْ
لاَمَ لاَئِمُ
Manusia yang berada disekitar kita digolongkan menjadi
salah satu dari tiga macam, orang yang mulia, rendah dan sepadan dengan kita,
orang yang mulia saya tahu derajatnya dan saya harus mengikuti sesutau yang haq
darinya, dan orang yang sepadan dengan kita bila terpeleset atau jatuh maka
saya lebih utama darinya, sedangkan orang yang rendah maka saya selalu
memberikan kata maaf kepada mereka untuk menjaga kehormatanku walaupun banyak
orang yang mencela.
تَغَرَّبْ
عَنِ اْلاَوْطَانِ فِى طَلَبِ الْعُلىَ # وَسَافِرْ فَفِى
اْلاَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِدِ
تَفَرُّجُ
هَمٍّ وَاكْتِسَابِ مَعِيْشَةٍ # وَعِلْمٌ وَآدَابٌ وَ
صُحْبَةُ مَاجِدِ
وَاِنْ
كَانَ فِى اْلاَسفَار ذُلٌّ وَغُرْبَهٌ # وَ قَطْعُ فَيَافٍ وَ
ارْتِكَابُ شَدَائِدَ
Pergilah dari rumahmu untuk mencari keutamaan, dalam kepergianmu ada 5
faedah, yaitu menghilangkan kesusahan, mencari bekal hidup (ma’isyah),
ilmu, tatakrama dan teman sejati, meskipun dalam bepergianpun terdapat hina dan
terlunta-lunta, menembus belantara dan menerjang kelelahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar